Showing posts with label Healty. Show all posts
Showing posts with label Healty. Show all posts

Mar 6, 2013

Mengapa Ada Orang Berjerawat dan Ada yang Tidak?

Kalian boleh lega sedikit sob, karena tidak semua bakteri pada jerawat itu jahat.

Penelitian baru menemukan mikroba yang menyebabkan bentuk paling umum dari jerawat datang dalam dua jenis: "buruk" yang menyebabkan berbagai jerawat dan tipe "baik" yang menjaga kulit agar tetap bersinar.

Temuan itu, dibahas dalam edisi 28 Februari di “Journal of Investigative Dermatology”, dapat menjelaskan mengapa hanya satu dari lima orang yang berjerawat (padahal kulit setiap orang mengandung bakteri jerawat).

"Kami berharap menerapkan temuan kami untuk mengembangkan strategi baru yang menghentikan jerawat sebelum mereka mulai tumbuh," ujar pemimpin peneliti Huiying Li dari David Geffen School of Medicine di UCLA.

Bakteri hidung
Dalam studi tersebut, Li dan koleganya mengumpulkan bakteri jerawat, yang disebut Propionibacterium acnes, dari hidung sekitar 100 relawan. Setengah responden berjerawat dan setengahnya lagi berkulit bersih. Bakteri Propionibacterium acnes berada jauh di dalam pori-pori kulit, kadang-kadang mereka mengganggu sistem kekebalan tubuh hingga menyebabkan peradangan dan menghasilkan benjolan merah yang kita sebut jerawat.

Dari sampel hidung, para peneliti menyusun genom dari 66 jenis bakteri Propionibacterium acnes. Mereka tertarik pada gen unik dari masing-masing varietas yang mungkin akan membedakan kulit bersih dan berjerawat.

"Dua jenis unik dari P. acnes muncul di kulit satu dari lima relawan yang berjerawat, tetapi jarang ada pada orang berkulit bersih," ujar Dr Noah Craft, ahli kulit dan direktur Center for Immunotherapeutics Research di LA BioMed di Harbor — UCLA Medical Center. Berikutnya datang kejutan lain: jenis ketiga sering muncul pada sukarelawan dengan kulit yang sehat, tetapi jarang pada mereka yang  berjerawat.

"Kami menduga jenis ketiga mengandung mekanisme pertahanan alami yang memungkinkan untuk mengenali penyerang dan menghancurkan mereka sebelum mereka menginfeksi sel bakteri," ujar Li dalam sebuah pernyataan.

Membunuh jerawat
Para peneliti berpikir bahwa meningkatkan jenis P. acnes yang “baik” dalam tubuh, mungkin dalam bentuk krim, dapat menghentikan jerawat.

"Jenis P. acnes tersebut mungkin bisa melindungi kulit, seperti bakteri hidup dalam yoghurt yang membantu mempertahankan usus dari bakteri berbahaya," ujar Li. "Langkah selanjutnya adalah menyelidiki apakah krim probiotik dapat menghentikan bakteri jahat dari menyerang kulit dan mencegah jerawat sebelum mereka tumbuh."

Penelitian anti-jerawat lainnya telah menunjukkan virus jinak yang disebut bacteriophages yang memakan bakteri dan tidak memakan sel manusia mungkin adalah kuncinya. Pada tahun lalu para ilmuwan melaporkan di jurnal “mBio” mereka telah menemukan bacteriophages yang hidup pada kulit Anda, yang bisa secara efektif membunuh P. acnes.

Mar 3, 2013

Bayi yang Lahir Dengan HIV Bisa Sembuh

Seorang bayi yang terlahir dengan virus penyebab AIDS bisa disembuhkan, kata para ilmuwan. Kasus ini melibatkan seorang anak dari Mississippi yang kini berusia 2,5 tahun dan sudah lepas dari obat selama setahun terakhir tanpa menunjukkan tanda-tanda infeksi.

Tak ada jaminan bahwa anak ini akan tetap sehat, meski begitu serangkaian tes yang canggih menemukan jejak materi genetik virus tersebut masih tersisa. Jika terbukti maka ini adalah penyembuhan kedua yang dilaporkan di dunia.

Pengumuman besar di pertemuan penting AIDS di Atlanta menawarkan harapan menjanjikan atas upaya menghilangkan infeksi HIV pada anak-anak, terutama di negara-negara Afrika yang terjangkit AIDS,

"Anda bisa menyebut ini sebagai suatu obat penyembuhan, hal yang paling dekat dengan penyembuhan yang kita miliki," kata Dr. Anthony Fauci dari National Institutes of Health, yang familiar dengan penelitian ini, pada Associated Press.

Dokter memberi bayi ini pengobatan yang lebih cepat dan kuat dari biasanya, diawali dengan infus tiga obat dalam jangka waktu 30 jam setelah kelahiran. Pengobatan ini dilakukan sebelum tes mengonfirmasi bahwa bayi tersebut terjangkit HIV, dan bukan hanya mengalami risiko sakit dari ibu yang tak terdiagnosa HIV sampai dia berada dalam proses melahirkan.

"Saya hanya merasa bayi ini berada dalam risiko yang lebih tinggi dari biasanya, dan layak mendapat perawatan terbaik kami," kata Dr. Hannah Gay, spesialis HIV anak di University of Mississippi, dalam sebuah wawancara.

Aksi cepat ini rupanya menghancurkan HIV dalam darah bayi sebelum terbentuk dan bersembunyi dalam tubuh. Sel-sel diam yang bersembunyi inilah yang biasanya akan dengan cepat menginfeksi seseorang saat mereka berhenti minum obat, kata Dr. Deborah Persaud dari Johns Hopkins Children's Center. Ia memimpin penyelidikan yang akhirnya memberi diagnosis anak tersebut "sembuh secara fungsional", atau dalam remisi jangka panjang meski tak semua jejak virus tersebut berhasil hilang.

Selanjutnya, tim Persaud berencana untuk membuktikan hal itu, dengan lebih banyak pengobatan agresif pada bayi risiko tinggi lainnya. "Mungkin kita akan bisa menghambat sel-sel yang bersembunyi ini," kata Persaud.

Meski begitu, jangan ada satupun orang yang menghentikan obat anti-AIDS mereka sebagai dampak kasus ini, kata Fauci.

Temuan ini tetap saja "membuka banyak pintu" pada penelitian yang memungkinkan anak-anak lain bisa dibantu.

Sekitar 300 ribu anak-anak terlahir dengan HIV pada 2011, kebanyakan di negara-negara miskin di mana 60 persen wanita hamil yang terinfeksi mendapat perawatan yang bisa menghambat virus ini menular ke bayi mereka. Di Amerika Serikat, kelahiran seperti itu sangat jarang terjadi karena tes HIV dan perawatan telah lama menjadi bagian perawatan pra-kelahiran.

"Kami tak bisa menjanjikan kesembuhan buat bayi-bayi yang terinfeksi. Kami bisa menjanjikan pencegahan sebagian besar penularan jika ibu-ibu diuji setiap kehamilan," kata Gay.

Satu orang lain yang dianggap sembuh oleh virus AIDS menjalani perawatan yang sangat berbeda dan berisiko, transplantasi sumsum tulang belakang dari donor khusus, salah satu orang yang resisten secara alami terhadap HIV. Timothy Ray Brown asal San Francisco sudah tidak membutuhkan obat HIV selama lima tahun sejak transplantasi tersebut.

Kasus Mississippi ini menunjukkan bahwa ada "pengobatan yang berbeda untuk populasi berbeda bagi orang-orang yang terinfeksi HIV," kata Dr. Rowena Johnston dari amFar, Yayasan Penelitian AIDS. Grup ini membiayai tim Persaud untuk mengeksplorasi kemungkinan penyembuhan dari kasus-kasus pediatrik.

Dalam kasus Mississippi, sang ibu mendapat perawatan prenatal saat berada di ruang gawat darurat dalam kondisi melahirkan. Tes cepat menunjukkan ia terdeteksi HIV. Dalam kasus seperti ini, dokter biasanya memberikan bayi yang lahir obat dosis rendah untuk mencegah virus HIV mengakar. Tapi rumah sakit kecil tempat si ibu melahirkan tak punya obat jenis cair dan mengirimkan si bayi ke pusat kesehatan milik Gay, di mana mereka memberi bayi dosis tinggi.

Respons si anak cukup baik sampai usia 18 bulan, meski keluarga si bayi sempat berhenti ke rumah sakit dan menghentikan perawatan. Saat mereka datang lagi beberapa bulan kemudian, tes standar menunjukkan bahwa tak terdeteksi virus di darah si bayi.

10 Bulan setelah perawatan berhenti, tes super-sensitif di sekitar enam laboratorium menunjukkan tak ada tanda-tanda kembalinya virus. Hanya ada sedikit sisa materi genetik yang tampaknya tak bisa memperbanyak dirinya, kata Persaud.

Di Mississippi, Gay tetap mengecek kondisi si anak setiap beberapa bulan sekali: "Saya hanya memeriksa virus itu dan berdoa agar tak muncul lagi."

HIV si ibu tetap dikendalikan dengan obat dan ia "sangat bahagia untuk anaknya," kata Gay.