Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Mar 3, 2013

Kelebihan dan Kekurangan GapTek..


Tentunya kamu harus sering-sering berlatih dan mempelajari bagaimana caranya menguasai teknologi yang  ada sekarang ini. Serta jangan mudah menyerah dan jangan malu untuk bertanya. Berikut kelebihan dan kekurangan orang yang gaptek.



Kelebihan:
1. Tidak akan terpengaruh budaya-budaya asing yang sebagian besar membawa dampak negatif.
2. Akan terlihat seperti seorang yang polos (karena tidak tahu apa-apa, jadi terlihat imut dan tanpa dosa).
3. Tidak akan terlibat masalah yang berhubungan dengan teknologi itu sendiri.

Kekurangan:
 1. Tidak dapat mengetahui perkembangan informasi teknini.
2. Akan dicap sebagai seseorang yang gaptek (gagap teknologi) bahkan kejam (ketinggalan jaman).
3. Tidak dapat mengoperasikan berbagai alat-alat/perangkat berbasis teknologi modern.
4. Akan kesulitan dalam mencari pekerjaan
    (karena akhir-akhir ini banyak kantor yang mengharuskan pegawainya dapat mengoperasikan perangkat IT)
Dan dewasa ini sudah bayak peralihan, tak terkecuali dalam dunia pendidikan dari yang serba manual ke era digital. Seperti guru-guru sekarang yang lebih senang menggunakan e-mail untuk mengumpulkan tugas dari muridnya, penggunaan buku standar elektronik (BSE), dan masih banyak lagi. (int/ray)

Ga..Gap.. Gaptek...

Alternatif Apple ala GapTek
  HARI gini masih ketinggalan informasi? Sudah bukan zamannya lagi bro. Kalaupun masih ada, bisa di bilang orang itu masih gaptek. Tapi sebelumnya kamu sendiri tau nggak sih gaptek itu apa? Yupz, gaptek merupakan singkatan dari gagap teknologi. Menurut kitab gaul, gaptek merupakan orang yang kurang paham atau nggak up to date terhadap hal-hal yang berbau teknologi. Nah loh apa lagi tuh up to date ? Up to date adalah hal-hal yang ter-baru.  Ada yang mendefinisikan gaptek adalah ketidakmampuan seseorang dalam menggunakan perangkat teknologi modern.
 Dan dari singkatannya sudah jelas bahwa sebutan ini melekat erat hubungannya dengan dunia teknologi, mulai dari gadget, komputer, internet, dan lain-lain. Sebenarnya apa sih tolak ukur gaptek itu ? Untuk yang satu ini tergantung bagaimana penilaian masing-masing orang, so nggak ada parameter tetap untuk menjudge seseorang gaptek atau tidak.
Apa faktor yang menyebabkan seseorang gaptek ? Seseorang dikatakan gaptek bisa disebabkan bebarapa hal, mulai dari lingkungan, ekonomi, atau bahkan kebiasaan individu itu sendiri yang tertutup dari perkembangan informasi dan teknologi. Dan apabila tidak mengikuti perkembangan teknologi, tentu imbasnya kita tidak tahu-menahu seputar informasi dan teknologi terbaru. Contoh, handphone canggih alias smartphone keluaran terbaru yang harganya selangit tapi penggunanya hanya bisa menggunakan fitur messaging (SMS) atau hanya untuk menelpon, pengguna seperti ini nih yang bisa dikatakan gaptek. Padahal bila ditelusuri masih banyak fitur lain yang dapat digunakan, seperti social network, games, pengolahan data, dan masih banyak lagi.
Fakta menunjukkan bahwa yang biasanya terserang gaptek adalah golongan orang tua dan kalangan masyarakat pedesaan. Why ? Hal ini disebabkan karena kebutuhan teknologi bagi kalangan tersebut dianggap tidaklah terlalu penting atau dari faktor daerah yang belum terjangkau dengan fasilitas informasi dan teknologi yang memadai. Sebagai contoh saat ini banyak anak-anak kota yang lebih mengetahui perkembangan informasi maupun penggunaan teknologi  terbaru daripada orangtuanya.
So, sebenarnya gaptek bisa saja dihindari oleh setiap kalangan dengan terus mempelajari serta up to date terhadap informasi dan penggunaan teknologi terbaru yang pastinya selalu berkembang tanpa mengenal batas waktu.

Feb 24, 2013

Karakteristik Generation Z



Gen-Z memiliki karakteristik perilaku dan kepribadian yang berbeda dengan generasi sebelumnya.  Beberapa karakteristik umum dari Generasi Z diantaranya adalah:


Fasih Teknologi. 
Mereka adalah “generasi digital” yang mahir dan gandrung akan teknologi informasi dan berbagai aplikasi komputer.  Mereka dapat mengakses berbagai informasi yang mereka butuhkan secara mudah dan cepat, baik untuk kepentingan pendidikan maupun kepentingan hidup kesehariannya.



Sosial. 
Mereka sangat intens berkomunikasi dan berinteraksi dengan semua kalangan, khususnya dengan teman sebaya melalui berbagai situs jejaring, seperti: Facebook, twitter, atau  melalui SMS. Melalui media ini, mereka bisa mengekspresikan apa yang  dirasakan dan dipikirkannya secara spontan. Mereka juga cenderung toleran dengan perbedaan kultur dan sangat peduli dengan lingkungan.






Multitasking. 
Mereka terbiasa dengan berbagai aktivitas  dalam satu waktu yang bersamaan. Mereka bisa membaca, berbicara, menonton, atau mendengarkan musik dalam waktu yang bersamaan. Mereka menginginkan segala sesuatunya dapat dilakukan dan berjalan serba cepat. Mereka tidak menginginkan hal-hal yang bertele-tele dan berbelit-belit.
            





        Karakteristik tersebut memiliki dua sisi yang berlawanan, bisa positif- memberikan manfaat bagi dirinya dan atau lingkungannya- atau justru malah negatif yang dapat merugikan diri sendiri maupun lingkungannya. Wawan (2011)  dalam tulisannya yang dipublikasikan di Wikimu, mengatakan bahwa karena mereka fasih dengan teknologi digital, mereka sangat cocok bekerja di perusahaan besar, perusahaan yang mampu menyediakan fasilitas modern. Namun mereka akan kesulitan jika diminta mengelola sebidang tanah, dengan fasilitas pengairan, dan modal uang secukupnya. Karena yang ada di benak mereka adalah komputer, laptop dan HP, bukan peternakan, perikanan dan pertanian.  Merurut Tuhana Taufiq Andrianto, sebagaimana disampaikan oleh Jusuf AN  dalam tulisannya yang berjudul “Masa Depan Anak-Anak Generasi Z” bahwa  anak cenderung berkurang dalam komunikasi secara verbal, cenderung bersikap egosentris dan individualis, cenderung menginginkan hasil yang serba cepat, serba-instan, dan serba-mudah, tidak sabaran, dan tidak menghargai proses. Kecerdasan Intelektual (IQ) mereka mungkin akan berkembang baik, tetapi kecerdasan emosional mereka jadi tumpul. Sementara itu,  Choiron  (2011) menyoroti tentang bahaya dari kecenderungan Gen-Z yang gemar  mendengarkan musik melalui earphone atau headset,  yang dapat menyebabkan kecelakaan lalu lintas dan gangguan pada pendengaran.

Generation Z



PERNAH nggak denger istilah Generasi Z atau biasa disebut Gen-Z? Ini bukan nama merek lho! Tapi memang istilah nama untuk generasi atau golongan berdasarkan waktu lahir dan sifat atau kebiasaannya.

Sebelumnya, perlu kita ketahui bahwa dikenal ada 3 generasi di dunia ini setelah era pasca perang dunia ke-2. Generasi pertama adalah Generasi X (Gen-X) dikenal sebagai generasi Baby Boomers. Cakupan dari generasi X adalah mereka yang lahir dari tahun 1960 sampai 1980. Kemudian ada generasi Y (Gen-Y) atau Millenia. Gen-Y adalah mereka yang lahir dari tahun 1980 sampai dengan tahun 1995. Nah, Generasi Z (Gen-Z) atau biasa di sebut iGeneration adalah mereka yang lahir diatas tahun 1995. Dan mereka sendiri diprediksikan adalah generasi yang melek akan dunia digital karena mereka yang lahir dan dibesarkan di era digital seperti sekarang ini.


Badan riset  JWT Intelligence mengeluarkan sebuah riset mereka tentang Gen-Z. Dijelaskan oleh mereka bahwa Gen-Z adalah generasi yang paling ahli dan terbiasa menggunakan mobile phone. Kemudian, mereka tidak membedakan dunia offline dan online karena mereka tetap online setiap saat melalui segala perangkat gadget mereka. Dan mereka juga menganggap bersosialisasi secara digital adalah hal yang mudah dan menyenangkan. Hal yang cukup menarik adalah setuju atau tidak baik di Indonesia atau di negara lainnya, Facebook dan Twitter paling sering digunakan oleh para Gen-Z sebagai media sosialisasi “wajib” bagi mereka. Setelah itu, hubunganya dengan brand adalah bahwa ke depannya, para pemilik brand akan dihadapkan oleh tantangan platform SoLoMo (Social, Local, Mobile) di setiap program aplikasi dan komunikasi untuk mereka.
                Dan dewasa ini sudah banyak gadget serta aplikasi mobile yang support dengan aktifitas para Gen-Z ini. So, mereka yang sudah terbiasa berinteraksi dengan gadget entah itu pada handphone, laptop, iPad, atau PDA cenderung sudah terbiasa dan tidak bisa lepas dengan aktifitas online, baik sekedar SMS-an, BBM-an, Browsing, sampai up date ststus di media sosial.